Just Sharing from/
by rinaldimunir
Saya bertemu lagi dengan Bapak penjual amplop di depan Masjid
Salman. Sudah beberapa minggu saya tidak melihatnya berjualan pada hari
Jumat di depan Salman, tetapi kali ini saya “beruntung” bertemu dia
lagi. Tadi siang saya agak telat menuju Salman untuk shalat Jumat, saya
datang ketika adzan mulai berkumandang. Ketika berjalan memasuki jalan
lingkar Taman Ganesha yang menuju Masjid Salman ITB, saya melihat
seonggok dagangan yang ditinggal pergi pemiliknya. Saya yakin itu pasti
dagangan Bapak penjual amplop sebab ada beberapa kotak amplop yang
ditutupi kertas kardus di atasnya. Tas lusuh di atas tembok batu di
belakang itu pasti tas miliknya.
Dagangan Bapak penjual amplop, ditinggal dulu karena pemiliknya shalat Jumat
Bapak penjual amplop itu ternyata bernama Pak Darta, bukan Pak Suhud
seperti yang ditulis oleh Romi yang mewawancarai dia beberapa waktu yang
dulu. Alhamdulillah ternyata Pak Darta tidak pernah lalai menunaikan
kewajibannya sebagai seorang muslim yaitu shalat. Dulu, ketika tulisan
pertama tentang Bapak itu saya muat di blog ini ada pembaca yang
menyangsikan dia seperti pedagang kaki lima lain di sekitar Salman yang
tetap berjualan dan tidak ikut shalat Jumat. Tetapi, Pak Darta tidak
termasuk pedagang seperti itu. Dia tinggalkan dagangannya begitu saja
ketika adzan berkumandang lalu berjalan menuju masjid untuk shalat
Jumat.
Selesai shalat Jumat saya berniat menemui Bapak itu lagi untuk
membeli amplopnya. Saya ingin membeli sepuluh bungkus lagi. Amplop yang
dulu saya beli belum pernah terpakai hingga saat ini, tetapi tidak
apa-apa saya ingin membelinya lagi. Saya percaya bahwa dagangan
orang-orang kecil itu mengandung barokah, karena ada ketulusan,
kejujuran, dan perjuangan hidup di dalamnya.
Bapak itu sudah selesai shalat Jumat dan sudah berada di depan
dagangannya. Ketika langkah saya semakin mendekat, saya perhatikan
beberapa orang silih berganti membeli dagangan amplopnya. Ada yang
membeli satu bungkus, dua bungkus, dan sebagainya. Alhamdulillah, selalu
ada saja rezeki buat si Bapak itu ya. Pembeli umumnya melebihkan
pembayaran dengan niat sedekah (begitu kira-kira yang saya perhatikan).
Setelah suasana agak sepi baru saya dekati Pak Darta. Penampilannya
sekarang terlihat lebih segar dibandingkan pertama kali saya bertemu dia
dulu, tetapi tetap seja raut kerentaan, tangan bergetar, dan suara
lirihnya masih melekat. Sambil membeli saya ingin tanya-tanya sedikit.
Pak Darta memang tidak kenal saya dan beliau juga tidak tahu kalau saya
menulis tentang kisahnya, tapi itu tidak penting.
Tukang koran yang berjualan di depan Taman Ganesha ikut menghampiri
kami. Rupanya para pedagang di sekitar Taman Ganesha itu terlihat peduli
dengan Pak Darta. Sejak tulisan pertama saya tentang Bapak penjual
amplop dimuat di blog ini, sudah banyak orang yang datang mencari dia
sehingga para pedagang di sana hafal dengan Pak Darta. Para pedagang itu
pula yang menjaga barang dagangan Pak Darta bila bapak itu shalat di
masjid Salman. Ah, siapa pula orang orang yang tega mencuri dagangan
amplop Pak Darta.
Saya yakin Pak Darta adalah tipikal muslim yang taat. Beberapa kali
saya pernah melihat dia — tapi bukan pada hari Jumat — mengemasi
dagangannya ketika adzan Dhuhur berkumandang dari Masjid Salman. Pak
Darta menitipkan tas yang berisi dagangan amplopnya kepada pedagang
martabak mini di sekitar situ, lalu dia berjalan dengan pelan menuju
masjid untuk mengambil wudlu dan shalat di dalam. Barakollah pak,
meskipun miskin dan sudah renta tetapi tidak lalai dengan kewajiban
agama.
Pak Darta sedang memasukkan 10 bungkus amplop yang saya beli
Pak Darta bercerita ada empat kali dia kedatangan orang-orang ke
rumahnya di Bale Endah, Kabupaten Bandung. Alhamdulillah, ada saja
orang-orang baik hati yang datang membantunya. Pak Darta berkata dengan
nada lirih bahwa dia memerlukan uang untuk memperbaiki rumahnya yang
sudah butut. Saya belum pernah ke rumahnya, belum punya kesempatan ke
sana. Tapi, kalau anda ingin datang melihat rumahnya, ini saya kasih
alamatnya setelah saya minta:
Pak Darta, RT 06 RW 01 Desa Cipicung, Manggahang, Bale Endah, Kabupaten Bandung. Bale Endah itu kecamatan yang letaknya di selatan kota Bandung.
Mudah-mudahan Pak Darta tetap sehat dan istiqmah sebagai seorang muslim yang taat. Amiin.